MUNGKINKAH KITA BERBAGI?
Yerus
………Berbagilah pada dunia. Buka mata dan hati tuk berbagi….
Mari berbagi… Ulurkan tangan, jangan pernah ragu kawan…..Dunia memanggil tuk kita berbuat
Prahara Itu Karena Kita
Itulah petikan syair lagu “Berbagilah Dunia” yang diciptakan oleh Nugie yang menjadi theme song Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC-United Nations Framework Convention on Climate Change), mulai 3 hingga 14 Desember 2007 di Nusa Dua Bali. Nugie mengajak sekitar 61 penyanyi papan atas negeri ini (The United Voices Of Indonesia) untuk berbagi menyanyikan lagu tersebut dan terlibat dalam video clip-nya. Patut kita cermati, mengapa Nugie justru membuat lagu mengenai berbagi? Kalau begitu apa sebenarnya hubungannya seruan berbagi dengan permasalahan social dunia dan negeri kita?
Berkurangnya ratusan hektar hutan per tahun adalah muara dari kerakusan pengusaha HPH mencari kekayaan tanpa henti dan serakahnya oknum aparat pemerintahan serta aparat hukum kita yang mengambil kesempatan korupsi dari hal itu. Hancurlah hutanku…banjir dan longsorlah “hadiah” bagi sesamaku, termasuk yang miskin dan tidak tahu apa-apa. Sejuknya udara dari Air Conditioner (AC) di rumah kita membuat kita lupa bahwa pada saat yang bersamaan lapisan ozon terus tergerus dan panas terik menjadi “teman setia” saudara-saudari kita tunawisma dan orang-orang miskin yang beristana seadanya di daerah kumuh.
Pilihan untuk terus menyalakan lampu, TV non stop demi nikmatnya tontonan televisi yang makin bervariasi belakangan ini embuat kita terlena bahwa pada saat yang bersamaan BBM dan batubara yang digunakan PLN untuk menghidupi semua itu berjalan seiring rusaknya Teluk Buyat, pencemaran bagi sesama kita di Sumbawa, resiko Sutet bagi sesama kita, dan banyak lagi. Kenyamanan kita “membagi” pemadaman bergilir bagi sesama kita orang miskin yang setiap harinya hanya berlindung pada beberapa watt cahaya lampu saja di rumah mereka (Kompas 31 Mei menulis bahwa di Banten sudah dimulai pemadaman bergilir 14 jam sehari karena kurangnya pasokan PLN).
Sadarkah kita bahwa di balik setiap pilihan kita untuk berbelanja di mall-mall mewah dan pusat grosir besar ada ratapan dan keluhan pedagang kecil di pasar tradisional yang dibiarkan oleh pemerintah kita bersaing bebas dengan para goliath pasar modern yang bermodal selangi. Sadarkah kita bahwa di balik egoisnya kita berputar-putar dengan motor dan mobil untuk memenuhi hasrat berjalan-jalan tanpa tujuan dan “ngeceng” untuk refreshing, banyak nelayan yang sulit sekali membeli solar untuk melaut dan mendapatkan ikan untuk menafkahi keluarganya. Sadarkah kita bahwa banyak supir bajai dan angkutan umum yang sangat menghitung tetes demi tetes BBM yang mereka beli sekedar untuk mencari setoran sisa demi senyum anak istrinya di rumah.
Sadarkah kita bahwa dibalik kecurangan dan korupsi sekecil apapun yang kita lakukan maka 250 juta penduduk Indonesia turut menanggungnya. Peluh orang miskin turut menjadi tumbalnya. Sadarkah kita bahwa dibalik kemalasan kita untuk belajar, membaca buku, dan membuka wawasan, berjuta-juta anak miskin hanya bersekolah dalam mimpi dan angan mereka saja.
Sadarkah kita semua bahwa keinginan sudah kita junjung lebih tinggi dari kebutuhan. Kenikmatan sudah berlari lebih jauh melampaui kesederhanaan, keinginan untuk instan dalam segala sesuatunya sudah menggerogoti semangat kerja keras kita. Segenap keseharian penuh kesalahan yang kita jalani sebagai rutinitas tanpa refleksi dan kesadaran untuk mengoreksi. Secara sadar atau tidak, langsung atau tidak langsung mengorbankan sesama manusia di tempat lain, maupun di waktu yang akan datang.
Kita enggan sedikit melihat ke dalam diri, seolah semua masalah hanya berasal dari luar diri kita. Menyalahkan orang lain, saling tuding, saling kecam antara berbagai lapisan masyarakat di televisi menjadi teladan terburuk bagi pemirsa televisi. Mahasiswa mengaku membela rakyat, namun membuat kekacauan yang justru merugikan banyak orang. Menurut mereka kesalahan ada pada pemerintah. Padahal sangat mungkin sehari-hari mereka jarang sekali serius belajar dan mengembangkan ilmu untuk mencari solusi masalah bangsa. Oposisi politik menuntut pemerintah bertanggung jawab, padahal motivasinya sangat kental pada perebutan kekuasaan di 2009 nanti. Semua penuh kepalsuan, semua penuh keegoisan, semua penuh dengan keserakahan. Maka melihatlah dalam diri bangsaku, sesamaku.
Memulai Dengan Rutinitas Berbagi
Nugie dengan brilian berhasil membagikan refleksinya pada kita untuk berbagi dalam bahasa kebersamaan. Mengingatkan kita bahwa sumber dari segenap permasalahan (pencemaran dan bahaya global warming hanya salah satunya) juga berasal dari keserakahan dan keengganan manusia untuk berbagi. Menurut saya ada tiga bentuk yang dimungkinkan dalam berbagi: 1) Memberi secara langsung; 2) berbagi kesempatan dengan orang lain orang lain; 3) berbagi keprihatinan atau berempati.
Berbagi bukan hanya sebatas memberi dalam arti harafiah. Seringkali kita berpikir bahwa ”perkara membagi” selesai sebatas memberi kolekte atau membantu memberikan sumbangan pada tetangga dan sesama kita. Walaupun memberi tetap harus menjadi kebiasaan kita, namun saya ingin mengajak kita semua keluar dari sekedar simbolis dan berbagi keprihatinan, berbagi kesempatan dengan orang lain. Semangat yang besar untuk menahan diri dan tidak mengutamakan kenikmatan kita untuk segala sesuatu yang seharusnya bisa menjadi senyum bersama dengan sesama kita. Mari kembali menyadari bahwa hidup berdasarkan kebutuhan dan tidak mengagungkan keinginan adalah semangat berbagi itu sendiri.
Gaya hidup yang hedonis, egois menggunakan energi, kenimatan duniawi berlebihan yang seringkali diperlakukan sebagai sebuah kebutuhan, perlahan semua itu harus kita bongkar dan tata ulang.Mengubah rutinitas gaya hidup hedonis dengan berbagi keprihatinan, berbagi kesempatan agar orang lain dapat menikmati hal-hal yang berhak mereka dapatkan. Merubah bukan dari luar diri, tetapi dari dalam diri kita. Mari menjadikan “berbagi” sebagai bagian dari rutinitas kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar